Bagi banyak perusahaan, VMware masih menjadi fondasi penting untuk menjalankan berbagai aplikasi bisnis. Mulai dari database, ERP, aplikasi internal hingga sistem produksi, banyak workload telah berjalan stabil di lingkungan VMware selama bertahun-tahun.
Namun, kebutuhan bisnis terus berkembang.
Kapasitas meningkat, perangkat keras memasuki masa pembaruan, kebutuhan disaster recovery semakin penting, sementara tim IT dituntut menyediakan sumber daya lebih cepat dan tetap menjaga efisiensi biaya.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tidak selalu harus memilih antara mempertahankan seluruh infrastruktur yang ada atau berpindah ke platform yang benar-benar baru.
Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah migrasi VMware ke VMware Cloud.
Dengan strategi ini, perusahaan dapat mempertahankan lingkungan VMware yang sudah familiar sekaligus mendapatkan fleksibilitas cloud untuk mendukung kebutuhan infrastruktur berikutnya.
Mengapa Strategi VMware Perlu Dievaluasi?
Virtualisasi telah membantu banyak perusahaan meningkatkan utilisasi server sekaligus menyederhanakan pengelolaan infrastruktur.
Namun setelah digunakan selama bertahun-tahun, lingkungan VMware biasanya ikut berkembang.
Jumlah virtual machine bertambah. Kebutuhan storage meningkat. Aplikasi baru membutuhkan resource tambahan. Backup dan disaster recovery semakin kompleks. Di saat yang sama, perangkat keras juga memasuki siklus pembaruan.
Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi sekadar:
“Apakah VMware masih berjalan dengan baik?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
“Apakah cara kita menjalankan VMware saat ini masih menjadi pilihan yang efisien untuk kebutuhan bisnis ke depan?”
Evaluasi ini semakin penting ketika perusahaan menghadapi VMware renewal, hardware refresh, peningkatan kapasitas, konsolidasi data center atau kebutuhan membangun disaster recovery site.
Broadcom VMware juga berkembang dari sekadar teknologi virtualisasi menuju platform private cloud yang lebih terintegrasi. Karena itu, VMware sebaiknya mulai dilihat sebagai bagian dari strategi infrastruktur perusahaan, bukan hanya sebagai kebutuhan lisensi.
Apa Itu Migrasi VMware ke VMware Cloud?
Migrasi VMware ke VMware Cloud adalah proses memindahkan virtual machine atau workload dari lingkungan VMware yang ada menuju infrastruktur cloud yang tetap menggunakan teknologi VMware.
Pendekatan ini berbeda dengan migrasi ke platform yang memiliki arsitektur dan cara operasional yang sepenuhnya berbeda.
Saat berpindah ke platform baru, perusahaan mungkin perlu melakukan penyesuaian pada:
- jaringan;
- monitoring;
- keamanan;
- proses operasional;
- integrasi aplikasi;
- hingga keterampilan tim IT.
Sementara pada pendekatan VMware-to-VMware, banyak konsep dan proses yang sudah dikenal oleh tim tetap dapat dipertahankan.
Bagi IT Manager dan infrastructure team, hal ini dapat membantu mengurangi kompleksitas dalam proses adopsi cloud.
Modernisasi tetap berjalan, tetapi perusahaan tidak harus memulai semuanya dari awal.
Kapan VMware Cloud Layak Dipertimbangkan?
Tidak semua workload perlu dipindahkan ke cloud.
Namun, terdapat beberapa situasi ketika VMware Cloud layak masuk dalam evaluasi strategi infrastruktur perusahaan.
1. Infrastruktur Memasuki Siklus Hardware Refresh
Server, storage dan perangkat jaringan memiliki masa penggunaan.
Ketika infrastruktur mendekati periode pembaruan, perusahaan biasanya perlu menyiapkan investasi untuk beberapa tahun ke depan.
Sebelum melakukan refresh secara penuh, ada baiknya perusahaan membandingkan beberapa skenario:
- memperbarui seluruh perangkat keras;
- melakukan konsolidasi resource;
- mempertahankan workload tertentu on-premises;
- atau memindahkan sebagian workload ke VMware Cloud.
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menghindari pembelian kapasitas besar berdasarkan asumsi kebutuhan puncak yang belum tentu digunakan secara optimal.
2. Kebutuhan Kapasitas Terus Bertambah
Pertumbuhan aplikasi biasanya diikuti peningkatan kebutuhan CPU, memory dan storage.
Namun penggunaan resource tidak selalu tumbuh secara konsisten.
Beberapa workload hanya membutuhkan kapasitas tambahan pada periode tertentu. Ada juga development environment atau proyek yang hanya berjalan sementara.
Dalam kondisi seperti ini, cloud dapat memberikan pilihan kapasitas yang lebih fleksibel tanpa harus selalu melakukan investasi perangkat keras di awal.
3. Perusahaan Membutuhkan Disaster Recovery
Membangun secondary data center sendiri membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Perusahaan perlu menyiapkan server, storage, network, data center, lisensi, serta dukungan operasional.
Padahal sebagian resource tersebut hanya digunakan ketika terjadi gangguan atau saat pengujian disaster recovery.
VMware Cloud dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun disaster recovery environment tanpa harus menduplikasi seluruh infrastruktur produksi secara identik.
4. Perusahaan Sedang Melakukan Konsolidasi Data Center
Lingkungan IT yang berkembang selama bertahun-tahun sering kali tersebar di beberapa lokasi atau menggunakan berbagai generasi perangkat.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kompleksitas pengelolaan.
VMware Cloud dapat menjadi salah satu tujuan ketika perusahaan melakukan konsolidasi data center.
Workload dapat dikelompokkan berdasarkan kebutuhannya:
Tetap on-premises
Untuk workload dengan kebutuhan kontrol atau performa tertentu.
Dipindahkan ke VMware Cloud
Untuk workload yang membutuhkan fleksibilitas kapasitas.
Digunakan sebagai disaster recovery
Untuk aplikasi penting yang membutuhkan recovery environment.
Dengan pendekatan ini, transformasi tidak harus dilakukan sekaligus.
5. Perusahaan Mulai Menerapkan Hybrid Cloud
Tidak semua aplikasi memiliki karakteristik yang sama.
Database utama mungkin tetap berada di private infrastructure.
Development environment dapat berjalan di cloud.
Disaster recovery ditempatkan di lokasi berbeda.
Sementara aplikasi baru dapat memanfaatkan arsitektur cloud-native.
Karena itu, perusahaan membutuhkan strategi workload placement yang jelas: workload mana yang sebaiknya tetap di lingkungan internal, mana yang dapat dipindahkan ke cloud, dan mana yang membutuhkan kombinasi keduanya.
Nilai Utama VMware-to-VMware: Familiar dan Lebih Mudah Dikelola
Salah satu tantangan terbesar dalam cloud migration bukan hanya teknologi, tetapi perubahan cara kerja.
Platform baru membutuhkan keterampilan baru.
Tim membutuhkan pelatihan.
Proses monitoring dapat berubah.
Troubleshooting membutuhkan pengalaman yang berbeda.
Jika tim IT sudah memiliki pengalaman mengelola VMware, mempertahankan ekosistem VMware di cloud dapat membantu mengurangi learning curve tersebut.
Tim tetap bekerja dengan konsep yang sudah dikenal, seperti:
- virtual machine;
- compute;
- storage;
- virtual network;
- resource allocation;
- dan capacity management.
Inilah salah satu nilai utama pendekatan VMware-to-VMware:
modernisasi infrastruktur tanpa harus mengubah seluruh cara kerja sekaligus.
Efisiensi VMware Tidak Hanya Tentang Harga Lisensi
Saat membahas VMware renewal, perhatian sering langsung tertuju pada harga lisensi.
Padahal untuk membuat keputusan yang lebih tepat, perusahaan perlu melihat Total Cost of Ownership atau TCO secara menyeluruh.
Komponennya dapat mencakup:
- lisensi;
- server;
- storage;
- networking;
- data center;
- listrik dan pendingin;
- backup;
- disaster recovery;
- support;
- operational manpower;
- hardware refresh;
- dan kapasitas cadangan.
Karena itu, membandingkan harga per core saja belum tentu memberikan gambaran biaya yang sebenarnya.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Berapa total biaya untuk menjalankan workload ini selama tiga hingga lima tahun?”
Dari sini, perusahaan dapat membandingkan model on-premises, cloud maupun hybrid secara lebih objektif.
Cloud VMware dan Biaya yang Lebih Terukur
Salah satu kekhawatiran perusahaan ketika menggunakan public cloud adalah kompleksitas biaya.
Compute, memory, storage, network, transfer data dan layanan tambahan dapat membuat tagihan sulit diprediksi jika tidak dikelola dengan baik.
Untuk workload enterprise yang relatif stabil, predictable cost menjadi pertimbangan penting bagi tim IT maupun procurement.
Namun perlu diingat, cloud tidak otomatis lebih murah.
Efisiensi tetap bergantung pada:
- ukuran resource yang tepat;
- pemilihan workload;
- pola penggunaan;
- serta pengelolaan kapasitas.
Karena itu, assessment sebelum migrasi menjadi langkah penting.
Migrasi Tidak Harus Dilakukan Sekaligus
Migrasi VMware tidak harus menggunakan pendekatan big bang.
Untuk enterprise, proses bertahap biasanya memberikan kontrol risiko yang lebih baik.
Tahap 1 — Assess
Mulai dengan memahami kondisi yang ada:
- jumlah host;
- core;
- CPU;
- memory;
- storage;
- jumlah VM;
- tingkat utilisasi;
- network;
- backup;
- serta dependency aplikasi.
Tahap 2 — Classify
Kelompokkan workload berdasarkan fungsi dan tingkat kepentingannya, misalnya:
- development;
- testing;
- internal application;
- production;
- mission-critical;
- atau disaster recovery candidate.
Tahap 3 — Design
Tentukan target architecture.
Workload mana yang tetap?
Mana yang dipindahkan?
Bagaimana connectivity-nya?
Bagaimana backup dan recovery dilakukan?
Berapa target RPO dan RTO?
Tahap 4 — Migrate
Mulai dari workload dengan risiko yang relatif lebih rendah sebelum memindahkan aplikasi yang lebih kritikal.
Tahap 5 — Optimize
Setelah workload berjalan, lakukan evaluasi kembali terhadap sizing, utilisasi dan biaya.
Dengan cara ini, migrasi dilakukan berdasarkan data dan kebutuhan bisnis, bukan sekadar asumsi.
VMware On-Premises dan VMware Cloud Tidak Harus Saling Menggantikan
Strategi modern tidak selalu harus memilih salah satu.
Perusahaan dapat menggunakan:
VMware On-Premises
Untuk workload yang membutuhkan dedicated infrastructure atau tingkat kontrol tertentu.
VMware Cloud Zettagrid
Untuk ekspansi kapasitas, development, selected production workload atau disaster recovery.
Hybrid VMware
Untuk menghubungkan kedua environment berdasarkan kebutuhan workload.
Pendekatan seperti ini memberi perusahaan ruang untuk melakukan transformasi secara bertahap dan lebih terkendali.
Mulai dari Assessment VMware Environment Anda
Keputusan terkait VMware sebaiknya tidak dimulai dari produk atau quotation.
Mulailah dari kondisi infrastruktur saat ini.
Berapa resource yang benar-benar digunakan?
Workload mana yang paling kritikal?
Apakah ada VM yang menggunakan resource lebih besar dari kebutuhan?
Berapa pertumbuhan kapasitas?
Kapan perangkat keras perlu diperbarui?
Bagaimana kebutuhan backup dan disaster recovery?
Dari jawaban tersebut, perusahaan dapat menentukan strategi yang lebih tepat:
Stay. Optimize. Extend. atau Migrate.
Arupa Cloud Nusantara dapat membantu perusahaan mengevaluasi existing VMware environment, kebutuhan licensing, kapasitas, arsitektur hingga rencana migrasi ke VMware Cloud.
Dengan kombinasi Broadcom VMware, VMware Cloud Zettagrid dan dukungan lokal Arupa, organisasi dapat menyusun roadmap modernisasi VMware secara lebih terukur.
Saatnya Mengevaluasi Strategi VMware Anda
Jika perusahaan Anda sedang menghadapi VMware renewal, hardware refresh atau kebutuhan ekspansi kapasitas, jangan langsung memulai dari pilihan platform.
Mulailah dari workload dan kondisi infrastruktur yang ada.
Diskusikan VMware environment Anda bersama Arupa untuk mengevaluasi kebutuhan licensing, capacity, VMware Cloud dan opsi migrasi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis.



